Kita butuh cahaya...
Cahaya adalah salah satu manifestasi kekuasaan Allah yang luar biasa, tidak hanya menerangi ruang di sekitar kita, tetapi juga menerangi kehidupan. Dalam ilmu fisika, cahaya didefinisikan sebagai gelombang elektromagnetik yang mampu menembus ruang hampa yang merupakan fenomena sederhana yang menyimpan kompleksitas luar biasa. Al-Qur'an, dalam Surah An-Nur ayat 35, menggambarkan Allah sebagai sumber cahaya langit dan bumi.
اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَا حٌ ۗ الْمِصْبَا حُ فِيْ زُجَا جَةٍ ۗ اَلزُّجَا جَةُ كَاَ نَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰـرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍ ۙ يَّـكَا دُ زَيْتُهَا يُضِيْٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَا رٌ ۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍ ۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَ مْثَا لَ لِلنَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. An-Nur 24: Ayat 35).
Ayat ini melukiskan perumpamaan cahaya Allah yang sempurna, seperti pelita yang terpancar melalui kaca. Pancaran itu tidak terhalang, menyinari apa saja yang ada di sekitarnya. Begitu pula dengan cinta, cahaya yang menerangi hati manusia. Cinta menjadi pelita di dalam kegelapan, memberikan harapan saat dunia terasa kelam, dan membimbing manusia menuju jalan kebaikan.
Seperti cahaya, cinta juga hadir tanpa membutuhkan alasan atau perantara. Cahaya menjangkau segala ruang tanpa batas, seperti cinta sejati yang mampu menjelajahi relung hati yang terdalam. Dalam sains, Ibn Al-Haitham menjelaskan bahwa cahaya adalah kumpulan partikel yang bergerak sangat cepat, menyebar dengan keindahan. Hal ini mengingatkan kita bahwa cinta sejati memiliki kekuatan untuk menyentuh dan mengubah hidup seseorang dengan cepat, memberikan makna baru dalam kehidupan.
Christian Huygens, melalui teorinya, menyatakan bahwa gelombang cahaya dapat saling berinterferensi dan menciptakan pola yang indah. Ini mengajarkan bahwa cinta sejati tidak hanya hadir untuk satu arah, tetapi juga saling melengkapi. Seperti gelombang cahaya yang membentuk pola indah pada garis pantulan air, cinta sejati akan menciptakan pola kehidupan yang penuh warna dan makna.
Dengan merenungi cahaya, kita dapat memahami lebih dalam arti cinta dalam kehidupan. Cahaya mengajarkan bahwa hidup tidak hanya soal melihat tetapi juga soal merasakan. Begitu pula cinta, yang merupakan anugerah Allah untuk memberi kehidupan rasa, arah, dan tujuan. Dalam setiap cahaya yang menerangi malam, kita diingatkan bahwa cinta, seperti cahaya, adalah berkah Ilahi yang harus kita jaga dan sebarkan, agar dunia selalu hangat oleh sinarnya. Pada akhirnya, saat aku merenungi cahaya-Nya, aku menemukan diriku kembali. Dalam tangis dan sujudku, ku temukan diriku yang banyak dosa. Dalam ketenangan, ku temukan hidayahNya.(*)
*Fatimah Azzahra, PBA 2023