Pada kesempatan kali ini, Prodi PBA IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung berkesempatan mewawancarai salah satu peserta KKN Nusantara Tahun 2025, Aisyah Shalsabila. Aisyah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti KKN Nusantara yang diikuti oleh seluruh mahasiswa dari kampus lain. Aisyah, sebagai salah satu mahasiswa IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, sekarang menduduki bangku perkuliahan di semester IV di Prodi PBA. Mari simak kisah dan pengalamannya selama mengikuti kegiatan KKN Nusantara.
Pengalaman apa saja yang Aisyah peroleh selama mengikuti KKN Nusantara Tahun 2025 ?
Mengikuti KKN kali ini merupakan suatu pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Ada kebanggaan tersendiri bagi saya ketika mengikuti KKN Nusantara yaitu berkenalan dengan teman-teman yang memiliki latar belakang yang beragam namun dengan keberagaman tersebut membuat KKN Nusantara ini terasa istimewa karena saya bisa berkenalan dan serta berbagi pengalaman, cerita, budaya dan hal seru lainnya dari teman-teman saya. yang mungkin sulit Saya dapatkan. Saya juga belajar bahasa isyarat dari teman sekelompok saya yang tunarungu dan hal ini memberikan pengalaman yang sangat baru bagi saya.
Pengalaman saya selama disini mungkin tak semuanya bisa saya tuangkan, akan tetapi saya bisa berbagi beberapa pengalaman saya selama disini. Mulai dari adaptasi bahasa (saya masih kesulitan berkomunikasi bahasa Jawa), cuaca disini yang bisa terbilang cukup dingin untuk saya. karena desa posko saya lokasinya cukup tinggi serta dikelilingi oleh perbukitan, persawahan dan sungai-sungai kecil, bahkan dari posko saya, gunung Merapi cukup terlihat. Namun yang menjadi tantangan saya adalah lokasi posko yang kurang strategis jauh dari pasar atau tempat wisata lainnya serta jauh dari jangkauan teman-teman dari Bangka lainnya sehingga saya sering menghabiskan waktu di posko dan ini sangat membosankan bagi saya.
Alhamdulillah para warga disini menyambut kami dengan baik, para warga disini sering memberikan kami berbagai macam makanan, menyapa kami dengan ramah, bahkan sangat terbuka dengan berbagai masukan yang kami berikan untuk desa. Meskipun desa ini termasuk yang paling kecil, yang paling sepi penduduknya yang bahkan didominasi oleh orang-orang yang berusia renta. Tapi mereka sangat menghargai keberadaan kami disini, meskipun sebagian ada diantara mereka yang memiliki perbedaan keyakinan.
Salah satu pengalaman unik yang saya alami adalah ketika saya ikut masuk ke dalam kapel di desa ini (semacam gereja kecil) ketika warga katolik di desa ini sedang melakukan peribadatan pada malam Minggu. Mereka menyambut baik kami ketika hendak melaksanakan proker moderasi Beragama yaitu dengan melakukan podcast dengan tokoh agama masyarakat desa ini. Meskipun yang diwawancarai kami bukanlah seorang pendeta. Namun beliau adalah salah satu tokoh masyarakat yang cukup aktif dalam peribadatan desa ini. Selama podcast berjalan beliau menjelaskan perjalanan dan pengalaman umat katolik disini tanpa ada diskriminasi sedikitpun. Sehingga ini menjadi pengalaman pertama kali yang sangat unik dan berkesan bagi saya. Selain itu kami juga cukup aktif membersihkan kapel setiap 2 minggu sekali meskipun sampai sekarang, saya belum kebagian untuk membersihkan kapel.
Dari situ, saya merasa sangat takjub karena saya belajar banyak hal terutama tentang toleransi beragama. Dengan bimbingan teman-teman, Saya juga dapat mempelajari banyak hal tentang kehidupan, kemandirian, dan pentingnya kerja sama tim. Saya juga merasa lebih dewasa dan memiliki perspektif yang lebih luas tentang keberagaman dan toleransi satu sama lain.
Bagaimana bentuk program kerja yang disusun dan dilaksanakan selama di sana?
Wah, program kerja yang kami susun dan telah kami laksanakan sebagai berikut:
Pertama, Penanaman pohon seribu impian. Penanaman pohon seribu impian adalah program yang dibuat untuk desa ini dengan melibatkan anak-anak. Bibit pohon yang kami dapatkan berasal dari dinas pertanian yogyakarta berupa 30 bibit pohon minyak kayu putih yang akan diserahkan kepada anak-anak di desa, kepala desa, masjid, kapel, serta warga sekitar. Acara dimulai dengan memberikan edukasi kepada anak-anak mengenai manfaat pohon minyak kayu putih lalu dilanjutkan dengan perawatannya, dan terakhir, pemberian secara simbolis kepada anak-anak dan kepala desa. Selain itu anak-anak yang diberikan bibit pohon, diharuskan untuk menulis cita-cita mereka di masa depan di sebuah kertas origami yang diletakkan di pohon tersebut dengan harapan: “seiring bertumbuhnya pohon maka semakin besar pula impian mereka.” Dan ini juga memberikan mereka tanggung jawab.
Kedua, Jembatan moderasi Beragama. Program ini bukanlah bermaksud membuat bangunan fisik untuk desa. Program ini merupakan program yang dibuat oleh KKN Nusantara dengan upaya atau sarana untuk mempertemukan perbedaan dalam kehidupan beragama agar tercipta kerukunan, toleransi, dan kedamaian di masyarakat. Dalam program ini kami mengadakan podcast pada masing-masing tokoh agama dalam tempat yang berbeda dengan waktu yang berbeda namun dengan satu tujuan untuk untuk menyampaikan toleransi beragama di masyarakat sekitar.
Ketiga, Jati Kraya. Jati kraya adalah nama lain dari kolase dari daun kering untuk anak-anak, daun kering yang digunakan adalah daun kering pohon jati serta daun-daun lainnya. Pada program ini anak-anak bebas dalam mengeksplorasi.
Keempat, Praktik Eco-print dan Edukasi Eco-enzyme. Bisa dikatakan Eco print adalah teknik mencetak motif alami dari tumbuhan langsung ke kain tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya. Proses ini memanfaatkan zat warna alami (pigmen) dari daun atau bunga yang ditumbuk atau dikukus agar tercetak di permukaan kain. Pada kali ini, kami melakukan praktek Eco-print bersama ibu-ibu dan antusiasme mereka sangat tinggi, dan untuk program Eco-enzyme kami hanya memberikan edukasi kepada warga mengenai Eco-enzyme tanpa praktik.
Kelima, Senam sore bersama ibu-ibu. Karena kebanyakan ibu disini bekerja sebagai petani dan baru pulang dari sawah sore hari, maka senam dilaksanakan sore hari pada hari Rabu dan Minggu pukul jam 4 sore. Alhamdulillah selama ini, antusias warga sangat tinggi.
Keenam, TPA dan Baiti Qur’ani. Awalnya, TPA di desa ini hanya diadakan di hari Minggu pagi hari dan hanya berfokus pada mengaji iqro dan Al-Qur’an. Proker kami berfokus pada TPA dengan menambahkan durasi hari, jadi selama kami berada di desa maka TPA dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu pagi. Lalu Baiti Qur’ani sendiri adalah program tambahan yang diadakan setelah TPA dengan memberikan pembelajaran Islam seperti doa, sholat, dan lain-lain, serta pengimplementasiannya dalam dunia nyata.
Ketujuh, Calistung dan Bimbingan Belajar. Program ini biasanya diadakan pada hari sabtu setelah Baiti Qur’ani dengan memberikan materi calistung pada anak-anak baik dari usia TK-SMP. Dan untuk bimbingan belajar sendiri biasanya diadakan pada malam hari dalam membantu anak-anak dalam memahami materi atau membantu mengerjakan rumah.
Dari segala hal yang telah dijalani, Apa harapan ke depan untuk pelaksanaan KKN Nusantara ini?
Tentu saja saya berharap, khususnya desa Kriyan, tempat desa saya melaksanakan KKN ini bisa dapat berkembang lebih baik dari sebelumnya dan dapat dijangkau lebih mudah oleh orang-orang kedepannya. karena ada banyak potensi sebenarnya di desa ini. Kami berharap proker kami yang kami buat dapat memberi manfaat kepada warga sekitar dan kedepannya kami berharap kalau proker yang kami buat, dapat diteruskan dan dikembangkan kedepannya.
Adapun utk KKN, pelaksanaan KKN dapat terus ditingkatkan kualitasnya. Saya berharap program KKN kali ini dapat lebih bermanfaat dan sesuai kebutuhan masyarakat, dengan melibatkan lebih banyak partisipasi aktif dari mahasiswa dan peningkatan koordinasi yang lebih baik antara pihak kampus, pemerintah desa, dan masyarakat. Saya berharap KKN bisa menjadi wadah yang lebih efektif dalam pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan di desa. (*)