Seuntai kalam langit memulai dengan :
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
"Hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Hati adalah pusat dari seluruh perasaan dan kehidupan manusia. Seperti bejana, hati selalu terisi dengan sesuatu. Namun, apakah yang mengisi hati itu adalah sesuatu yang membawa kedamaian sejati? Ketika hati dipenuhi oleh cinta dunia, ambisi, dan rasa takut kehilangan, hati kehilangan ruang untuk cahaya Allah. Tetapi, ketika hati dipenuhi dengan cinta kepada Allah, ketenangan sejati pun hadir.
Hati manusia bagaikan bejana yang tak pernah kosong. Setiap saat, ia terisi dengan berbagai hal. Ada yang mengisinya dengan penuh cinta, ambisi, atau pencapaian. Namun, apabila bejana sering kali dipenuhi dengan hal-hal yang tidak abadi, pada akhirnya hanya menjadi ilusi. Untuk menemukan kedamaian sejati, diperlukan seni melepaskan, bukan sebagai bentuk kehilangan, tetapi sebagai bentuk menerima bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah bagian dari kasih sayang Allah.
Hidup sering dianggap orang-orang sebagai ujian, tetapi bukankah sejatinya hidup adalah salah satu bentuk kasih sayang terbesar dari Allah? Kasih sayang Allah hadir dalam setiap nafas, setiap langkah, dan bahkan dalam takdir yang membutuhkan waktu untuk memahami sepenuhnya. Ketika hati terlalu terikat pada dunia, sering lupa bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari rencana Ilahi yang penuh hikmah.
Manusia diciptakan bukan untuk sekadar menjalani hidup yang fana, tetapi untuk meraih kekekalan yang sempurna di surga. Kehidupan ini bukan tujuan akhir, tetapi jalan untuk kembali kepada Allah. Melepaskan keterikatan pada dunia bukan berarti menolak dunia, melainkan memahaminya sebagai titipan sementara. Ketika hati dipenuhi dengan cinta kepada Allah, tidak ada yang hilang; justru segalanya menjadi bermakna.
Allah SWT berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ayat ini menunjukkan bahwa setiap aspek kehidupan adalah wujud ibadah. Pekerjaan, cinta, dan impian semuanya dapat menjadi ibadah jika dilandasi dengan kesadaran bahwa Allah adalah tujuan akhir.
Namun, hati yang terlalu penuh oleh hal-hal fana tidak mampu menampung cahaya Allah. Ambisi yang berlebihan, cinta dunia yang mendominasi, atau rasa takut kehilangan menjadikan hati sempit dan tidak tenang. Maka, membersihkan hati dari keterikatan yang sementara bukanlah sebuah pengorbanan, melainkan sebuah proses penyucian. Bagaimana caranya? Dengan kembali kepada Allah melalui taubat yang tulus, sembari meluruskan niat agar setiap langkah hidup menjadi wujud cinta dan pengabdian kepada-Nya.
Manusia adalah makhluk yang kekal, bukan karena hidup di dunia ini, tetapi karena Allah telah menjanjikan kehidupan abadi di surga untuk orang-orang beriman. Dalam surga, hati akan sepenuhnya dipenuhi oleh kebahagiaan yang tidak pernah berakhir. Keindahan, cinta, dan kedamaian yang dirasakan adalah manifestasi langsung dari kasih sayang Allah.
Jika hidup adalah kasih sayang Allah, maka setiap momen adalah kesempatan untuk mendekat kepada-Nya. Ketika disadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, melepaskan keterikatan duniawi menjadi lebih mudah. Sebab, tidak ada yang benar-benar hilang; yang ada hanyalah perjalanan menuju kehidupan yang lebih kekal, lebih indah, dan lebih bermakna. Hati yang bebas dari keterikatan duniawi bukanlah hati yang kehilangan, melainkan hati yang siap menerima cahaya Allah. Maka, renungkanlah. Apa yang mengisi bejana hati saat ini? Apakah itu membawa lebih dekat kepada Allah, atau justru menjauhkan? (*)
*Fatimah Azzahra, PBA 2023