Peran Diskursus Umat Islam dalam Menjaga Kebenaran

avatar M. Thaib Rizki, M.Pd.
M. Thaib Rizki, M.Pd.

56 x dilihat
Peran Diskursus Umat Islam dalam Menjaga Kebenaran

Umat Islam merupakan salah satu subjek diskursus yang menarik perhatian secara global. Di tengah berbagai permasalahan sosial dan moral yang melanda di dunia, umat Islam diharapkan dapat berperan aktif dalam membangun generasi yang berkarakter mulia sesuai dengan ajaran Islam.

Berbicara tentang umat Islam, pemahaman tentang Islam sudah seharusnya ditanamkan sejak dini dan terus diperdalam sepanjang kehidupan. Hal ini selaras dengan hakikat manusia berdasarkan pandangan agama Islam yaitu salah satu nya sebagai hamba Allah. Sebagai seorang hamba, seorang manusia wajib menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Namun di era teknologi dan informasi saat ini, hoaks telah menyerang agama dan menggerogoti sendi-sendi keberislaman. Sehingga, umat Islam hanyut dalam sederet silang pendapat hingga konflik atas nama Islam. Bahkan terjerumus dalam perdebatan yang tak berujung dan konflik yang merugikan citra agama. 

Seringkali kita bertengkar atas nama keyakinan (subjektivitas dan palsu), bukan kebenaran (objektivitas dan nyata). Seperti pada kasus yang pernah populer, sebagian umat Islam meyakini bumi datar dengan berbasis paradigma dan pendekatan "ayatisasi" yaitu mencocok-cocokkan ayat Al Qur'an dengan pseudosains. Hal ini membawa persepsi bahwa seolah-olah agama Islam dan sains bertentangan serta membawa pemahaman yang keliru. Ini mengingatkan kita pada "Tragedi Galileo" yang menjadi korban pertentangan antara agama dan sains paling memilukan. Selain itu ada juga pandangan yang menyimpulkan bahwa manusia merupakan hasil evolusi kera sebagaimana yang disebutkan oleh Charles Darwin. Hal ini bertentangan dengan Islam karena pada hakikatnya manusia merupakan Bani Adam (keturunan Adam) yang dijelaskan dalam Al Qur'an, salah satunya Surat Al-A'raf ayat 26-27.

Lebih jauh lagi dalam sejarah Islam, Sayyidah 'Aisyah istri Rasulullah SAW dikabarkan berselingkuh dengan laki-laki yang bernama Shafwan bin Muaththal. Lebih dari sebulan hoaks itu menyebar, hingga akhirnya Allah SWT menurunkan Surat An-Nur ayat 11-21 yang menepis hoaks tersebut. Lalu ketika terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, yang merupakan guncangan besar pertama bagi tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Kala itu, tersebar pembunuhan Khalifah Utsman untuk kepentingan politik yang kemudian melahirkan sekte-sekte Kalam (teologi) dalam Islam yang terus lestari hingga kini.

Diktum "perbedaan adalah Rahmat" batal demi hoaks. Sebab, diskursus sehat dalam perbedaan sebenarnya bersifat konstruktif. Kita bisa melihat diskursus antara imam-imam Mazhab yang paling populer (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali) yang menghadirkan satu perangkat keilmuan yurisprudensi Islam yang menjadi khazanah monumental hingga kini. Hoaks menjadikan semua berubah menjadi tuduhan yang destruktif dan justru menyulap perbedaan (ikhtilaf) menjadi perpecahan (iftiraq).

Oleh karena itu, di dalam agama Islam ada kalimat atau quote yang penulis suka dari sayyidina Ali yaitu

 “ أُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ ”

Artinya: Lihat apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.

Mengapa demikian? Karena, hoaks sering dimulai oleh orang pintar yang jahat untuk menyasar orang bodoh yang baik sebagai korbannya. Maka dari itu, ketika kita menerima informasi yang sudah pasti benar, jangan terburu-buru dibagikan. Pastikan bahwa informasi tersebut memberi maslahat bagi publik.

Terkait dengan perbedaan pendapat dalam agama Islam, penting untuk menjaga diskursus yang sehat dan konstruktif demi kebaikan bersama. Perbedaan pendapat seharusnya tidak menjadi alasan untuk terjadinya perpecahan, melainkan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang dalam pemahaman agama.

 فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

All praise to Allah, I hope this sentence can inspire and broaden the reader's insight, insya Allah.(*)

*Fatimah Azzahra, PBA 2023